Thursday, October 28, 2021
Home Kajian Fiqih Ibadah Ada Darah Nyamuk di Baju, Batalkah Shalatnya?

Ada Darah Nyamuk di Baju, Batalkah Shalatnya?

KIBLATKU.COM – Dalam kehidupan sehari-hari sering kali seorang Muslim bersinggungan dengan barang-barang yang dianggap oleh fiqih sebagai barang najis, yang apabila barang najis ini mengenai sesuatu yang dikenakannya akan berakibat hukum yang tidak sepele. Batalnya shalat dan menjadi najisnya air yang sebelumnya suci adalah sebagian dari akibat terkenanya barang najis.

Persoalan najis termasuk pembahasan penting dalam kitab fikih, khususnya pada saat membahas fikih thaharah (bersuci) dan fikih ibadah. Pembahasan ini penting diketahui agar ibadah yang dilakukan dianggap sah secara lahiriah, meskipun urusan diterima atau tidak diserahkan sepenuhnya pada Allah SWT. Paling tidak, kita sudah berusaha semaksimal mungkin mengerjakan ibadah sesuai dengan aturan dan proseduralnya.

Di antara permasalahan yang membuat orang ragu dalam ibadah adalah terkait darah nyamuk. Sebagaimana diketahui bahwa sebagian besar darah, baik manusia ataupun hewan, dihukumi najis.

Pada saat mengerjakan shalat, seorang harus memastikan bahwa pakaian yang dia gunakan atau pada tubuhnya tidak ada najis yang menempel. Terkadang, pada beberapa kasus, ada orang yang tidak tahan dengan gigitan nyamuk, kemudian dia memukulnya hingga mati meninggalkan darah di bajunya. Lantas Apakah hukumnya apabila anggota badan/pakaian kita kena darah nyamuk, sah atau tidak?

Dasar Hukum Menurut Imam Madzhab

Pembahasan darah jenis ini tidak ada dalil yang menyatakan bahwa darah tersebut najis. Maka kita kembali ke hukum asal bahwa segala sesuatu itu suci.

Menurut mayoritas ulama’ madzhab syafi’i, darah yang banyak dari jenis binatang tersebut tetap dima’fu (tidak usah disucikan). Alasannya pada umumnya darah dari jenis hewan-hewan tersebut sulit dihindari, jadi meskipun banyak tetap dima’fu, sama dengan diperbolehkannya sholat jama’ atau qoshor bagi orang yang bepergian, meskipun terkadang ia tidak merasakan kepayahan (masyaqot), karena memandang pada umumnya, bahwa orang yang bepergian pada jarak yang tersebut, merasa kepayahan.

Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab mengatakan, Apabila seseorang membunuh nyamuk dan kutu di baju, kulit, atau sela-sela jarinya,kemudian darah nyamuk tersebut mengotorinya, maka menurut al-Mutawalli hukumnya diperinci: tidak dapat ditolerir bila darahnya banyak dan ulama berbeda pendapat bila darahnya sedikit, menurut pendapat paling kuat, hukumnya dimaafkan.

Begitu pula orang yang shalat menggunakan baju terkena darah nyamuk atau shalat di atas kain yang terkena darah nyamuk. Shalatnya dianggap tidak sah jika darahnya banyak dan jika darahnya sedikit, ulama berbeda pendapat.

Senada dengan ulama Hanabilah (Madzhab Hanafi) mengungkapkan, binatang yang tidak memiliki darah merah mengalir, dia suci, sekaligus semua bagian tubuhnya, dan yang keluar dari tubuhnya darah nyamuk tidak najis secara mutlak, supaya tidak memberatkan jika harus di cuci. Apalagi, susah menghindari nyamuk tersebut. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt, “Dan Allah tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Q.S. Al-Hajj:78)

Terkait kasus ini, mayoritas ulama empat madzhab menyimpulkan bahwa darah hukumnya najis, akan tetapi berbeda dalam masalah darah sedikit yang dimakfu (dimaafkan) najisnya, seperti darah nyamuk, lalat, dan semacamnya dari hewan yang tidak mengalir darahnya.

Lalu bagaimana ukuran darah bisa dianggap sedikit atau banyak? Syekh Syihab Ar-Romli sebagaimana dikutip oleh Syekh Nawawi Banten dalam Kâsyifatus Sajâ menuturkan bahwa, ukuran sedikit dan banyak itu berdasarkan adat kebiasaan. Noda yang mengenai sesuatu dan sulit untuk menghindarinya maka disebut sedikit. Yang lebih dari itu disebut banyak. Namun ada juga yang berpendapat bahwa yang disebut banyak itu seukuran genggaman tangan, seukuran lebih dari genggaman tangan, atau seukuran lebih dari satu kuku.

Meski ada kelonggaran atau kemudahan dalam kasus ini. Alangkah lebih bijaksananya, apabila kita menghindari perkara ini dengan meningkatkan rasa kehati-hatian. Misalnya ketika shalat berlangsung ada nyamuk atau hewan sejenisnya yang hinggap dibadan kita, cukup dengan mengusirnya tanpa harus menepuk hingga keluar darahnya.[] Wallahu’alam

RELATED ARTICLES

Kurban Kambing secara Patungan, Bolehkah?

KIBLATKU.COM - Idul Adha identik dengan kurban. Ia sekaligus menjadi ajang berbagi sesama. Pada hari itu, semua muslim di manapun merasakan nikmatnya...

Ketentuan Qurban dan Dasar Hukumnya dalam Islam

KIBLATKU.COM - Idul Fitri dan Idul Adha datang sekali dalam satu tahun. Keduanya adalah hari besar Islam dengan fadhilah yang berbeda. Masing-masing...

Kiat Menghindari Bencana (Musibah) Menurut Alquran dan Hadis

KIBLATKU.COM - Bencana alam bukan sekadar fenomena biasa sebagaimana dipahami orang-orang sekuler. Allah Azza wa Jalla sudah menguraikannya dengan sangat jelas dalam...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

UIN Jakarta Raih Predikat Perguruan Tinggi Menuju Informatif

KIBLATKU.COM - Komisi Informasi Pusat (KIP) menggelar Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2021....

BPJPH Dorong Terbentuknya Lebih Banyak Lembaga Pemeriksa Halal

KIBLATKU.COM - Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag Muhammad Aqil...

Kapolri dan Para Tokoh Nasional Apresiasi  HUT Gerakan Indonesia Optimis ke-3

Jakarta - Sejumlah tokoh nasional, petinggi TNI, Polri, ulama, artis, dan ketua OKP memberikan testimoni pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Gerakan...

Polemik Pencatatan Nikah Siri, Ini Komentar Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta

KIBLATKU.COM - Polemik tentang pernikahan siri dapat ditulis di Kartu Keluarga (KK) menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Ini dipicu dari keberadaan Peraturan...

Recent Comments