Monday, April 12, 2021
Home Kajian Fiqih Ibadah Ada Darah Nyamuk di Baju, Batalkah Shalatnya?

Ada Darah Nyamuk di Baju, Batalkah Shalatnya?

KIBLATKU.COM – Dalam kehidupan sehari-hari sering kali seorang Muslim bersinggungan dengan barang-barang yang dianggap oleh fiqih sebagai barang najis, yang apabila barang najis ini mengenai sesuatu yang dikenakannya akan berakibat hukum yang tidak sepele. Batalnya shalat dan menjadi najisnya air yang sebelumnya suci adalah sebagian dari akibat terkenanya barang najis.

Persoalan najis termasuk pembahasan penting dalam kitab fikih, khususnya pada saat membahas fikih thaharah (bersuci) dan fikih ibadah. Pembahasan ini penting diketahui agar ibadah yang dilakukan dianggap sah secara lahiriah, meskipun urusan diterima atau tidak diserahkan sepenuhnya pada Allah SWT. Paling tidak, kita sudah berusaha semaksimal mungkin mengerjakan ibadah sesuai dengan aturan dan proseduralnya.

Di antara permasalahan yang membuat orang ragu dalam ibadah adalah terkait darah nyamuk. Sebagaimana diketahui bahwa sebagian besar darah, baik manusia ataupun hewan, dihukumi najis.

Pada saat mengerjakan shalat, seorang harus memastikan bahwa pakaian yang dia gunakan atau pada tubuhnya tidak ada najis yang menempel. Terkadang, pada beberapa kasus, ada orang yang tidak tahan dengan gigitan nyamuk, kemudian dia memukulnya hingga mati meninggalkan darah di bajunya. Lantas Apakah hukumnya apabila anggota badan/pakaian kita kena darah nyamuk, sah atau tidak?

Dasar Hukum Menurut Imam Madzhab

Pembahasan darah jenis ini tidak ada dalil yang menyatakan bahwa darah tersebut najis. Maka kita kembali ke hukum asal bahwa segala sesuatu itu suci.

Menurut mayoritas ulama’ madzhab syafi’i, darah yang banyak dari jenis binatang tersebut tetap dima’fu (tidak usah disucikan). Alasannya pada umumnya darah dari jenis hewan-hewan tersebut sulit dihindari, jadi meskipun banyak tetap dima’fu, sama dengan diperbolehkannya sholat jama’ atau qoshor bagi orang yang bepergian, meskipun terkadang ia tidak merasakan kepayahan (masyaqot), karena memandang pada umumnya, bahwa orang yang bepergian pada jarak yang tersebut, merasa kepayahan.

Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab mengatakan, Apabila seseorang membunuh nyamuk dan kutu di baju, kulit, atau sela-sela jarinya,kemudian darah nyamuk tersebut mengotorinya, maka menurut al-Mutawalli hukumnya diperinci: tidak dapat ditolerir bila darahnya banyak dan ulama berbeda pendapat bila darahnya sedikit, menurut pendapat paling kuat, hukumnya dimaafkan.

Begitu pula orang yang shalat menggunakan baju terkena darah nyamuk atau shalat di atas kain yang terkena darah nyamuk. Shalatnya dianggap tidak sah jika darahnya banyak dan jika darahnya sedikit, ulama berbeda pendapat.

Senada dengan ulama Hanabilah (Madzhab Hanafi) mengungkapkan, binatang yang tidak memiliki darah merah mengalir, dia suci, sekaligus semua bagian tubuhnya, dan yang keluar dari tubuhnya darah nyamuk tidak najis secara mutlak, supaya tidak memberatkan jika harus di cuci. Apalagi, susah menghindari nyamuk tersebut. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt, “Dan Allah tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Q.S. Al-Hajj:78)

Terkait kasus ini, mayoritas ulama empat madzhab menyimpulkan bahwa darah hukumnya najis, akan tetapi berbeda dalam masalah darah sedikit yang dimakfu (dimaafkan) najisnya, seperti darah nyamuk, lalat, dan semacamnya dari hewan yang tidak mengalir darahnya.

Lalu bagaimana ukuran darah bisa dianggap sedikit atau banyak? Syekh Syihab Ar-Romli sebagaimana dikutip oleh Syekh Nawawi Banten dalam Kâsyifatus Sajâ menuturkan bahwa, ukuran sedikit dan banyak itu berdasarkan adat kebiasaan. Noda yang mengenai sesuatu dan sulit untuk menghindarinya maka disebut sedikit. Yang lebih dari itu disebut banyak. Namun ada juga yang berpendapat bahwa yang disebut banyak itu seukuran genggaman tangan, seukuran lebih dari genggaman tangan, atau seukuran lebih dari satu kuku.

Meski ada kelonggaran atau kemudahan dalam kasus ini. Alangkah lebih bijaksananya, apabila kita menghindari perkara ini dengan meningkatkan rasa kehati-hatian. Misalnya ketika shalat berlangsung ada nyamuk atau hewan sejenisnya yang hinggap dibadan kita, cukup dengan mengusirnya tanpa harus menepuk hingga keluar darahnya.[] Wallahu’alam

RELATED ARTICLES

Jangan Kendor! Inilah Tips Istiqamah Menjalankan Ibadah di Bulan Ramadhan

KIBLATKU.COM - Sebentr lagi datang bulan Ramadhan, bulan suci nan mulia yang dinanti umat muslim di seluruh dunia. Ramadhan adalah bulan dilipatgandakannya...

Catat Ya! Kiat Khataman Al-Quran Selama Bulan Ramadhan

KIBLATKU.COM - Memasuki bulan suci Ramadhan, umat Muslim tidak saja diwajibkan untuk berpuasa, tetapi juga dianjurkan untuk memperbanyak ibadah-ibadah lain yang pahalanya...

Hukum Jual Beli Online Dalam Pandangan Islam

KIBLATKU.COM - Hukum jual beli online dalam Islam halal selagi ada barang dan dibayar tunai serta tidak ada unsur penipuan. Hukum jual...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Gandeng Bukalapak, BSI Hasanah Card Bantu UMKM Lewat Digital

KIBLATKU.COM - PT Bank Syariah Indonesia Tbk. berkomitmen terus mendukung penjualan produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lewat platform digital. Salah...

Jangan Kendor! Inilah Tips Istiqamah Menjalankan Ibadah di Bulan Ramadhan

KIBLATKU.COM - Sebentr lagi datang bulan Ramadhan, bulan suci nan mulia yang dinanti umat muslim di seluruh dunia. Ramadhan adalah bulan dilipatgandakannya...

Catat Ya! Kiat Khataman Al-Quran Selama Bulan Ramadhan

KIBLATKU.COM - Memasuki bulan suci Ramadhan, umat Muslim tidak saja diwajibkan untuk berpuasa, tetapi juga dianjurkan untuk memperbanyak ibadah-ibadah lain yang pahalanya...

Perkuat Moderasi Beragama di Sekolah, Pemda & Kemenag Harus Sinergi

KIBLATKU.COM - Sekjen Kemenag Nizar mengatakan bahwa dibutuhkan kerja sama antara Pemerintah Daerah dan Kementerian Agama dalam penguatan moderasi beragama di sekolah. 

Recent Comments