Sunday, August 1, 2021
Home Kolom Hikmah Isra Mikraj: Menjadi Salih di Saat Pandemi

Hikmah Isra Mikraj: Menjadi Salih di Saat Pandemi

Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H., M.A., M.H.
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat

KIBLATKU.COM – Peringatan Isra Mikraj tahun 1442 Hijrah ini merupakan tahun kedua dunia dilanda pandemi Covid-19. Dua peristiwa tersebut sejatinya tidak memiliki hubungan secara langsung. Namun, sebagai umat Islam, dua peristiwa tersebut memiliki kesamaan, yakni merupakan semata-mata atas kehendak Allah Swt., Tuhan Penguasa Alam Raya ini. Tak satu pun di muka bumi ini yang lepas dari kuasa-Nya (Q.s. Al-An’am [6]: 59). Demikian keyakinan teologis yang inheren dalam ajaran agama kita.

Perjalanan spiritual Nabi Muhammad Saw. melalui perjalanan magis, Isra dan Mikraj, diyakini menjadi pembuka lahirnya syariat salat. Di saat yang bersamaan peristiwa monumental dan menggetarkan itu sekaligus menjadi penguji keimanan umat Nabi Muhammad Saw. Ada yang memercayainya, namun tidak sedikit yang mengingkari kisah tersebut, bahkan sejumlah Sahabat keluar dari barisan Islam disebabkan lemahnya komitmen keagamaan mereka.

Peringatan Isra Mikraj yang diperingati setiap tanggal 27 Rajab memiliki makna penting baik dari sisi rohani maupun dari sosial. Dari sisi rohani, perjalanan spritual Nabi Muhammad itu menjadi titik pijak seorang hamba untuk senantiasa berkomunikasi dan berinteraksi dengan Allah melalui medium salat. Seperti firman Allah Swt., “Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali beribadah kepada-Ku” (Qs. Al-Dzariyat [51]: 56).

Ibadah salat menjadi momentum penting bagi seorang hamba untuk berinteraksi dengan Allah melalui berbagai doa yang dilafalkan dalam setiap gerakan. Di samping dimensi ketauhidan, salat juga mengandung aspek kedisplinan, ketertiban, kebersihan, dan kekompakan melalui instrumen salat jamaah.

Ritual ibadah salat yang menjadi salah satu pilar dalam Islam ini juga memiliki dimensi sosial. Melaksanakan ibadah salat dengan baik dan khusyu’ akan memberi dampak terhadap pencegahan perbuatan keji dan munkar sebagaimana firman Allah “Sesunggguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar” (QS: Al-Ankabut 45).

Peristiwa Isra Mikraj, yang diperingati setiap tahun oleh sebagian umat Islam, harus menjadi momentum kolektif umat Islam untuk meningkatkan kesalihan individual sekaligus menguatkan bangunan kesalihan sosial. Dua kesalihan ini harus senantiasa dimiliki oleh seorang Muslim agar filosofi salat dapat diraih oleh setiap individu. Dalam konteks tersebut, salat baik dalam arti etimologi maupun terminologis, memiliki nilai penting bagi setiap Muslim dalam menghadapi persoalan yang saat ini dihadapi masyarakat dunia berupa Covid-19.

Salih Individu dan Sosial

Fenomena pandemi Covid-19 yang telah melanda dunia setahun lebih lamanya, memberikan isyarat penting tentang bersatunya ilmu pengetahuan dengan ilmu agama. Dua entitas ilmu tersebut secara bersama-sama melawan Covid-19.

Sains melalui perangkat ilmu yang dimilikinya telah menghasilkan temuan serta analisis ilmiah mengenai anatomi Covid-19, termasuk penemuan vaksin terhadap virus ini. Begitu juga agama, melalui ajaran yang dipahaminya memandu umatnya untuk melawan Covid-19 ini.

Dalam konteks Islam, instrumen religius yang dimiliki, seperti salat, menjadi medium untuk mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Aktivitas rohani yang berdimensi vertikal (ibadah) ini menjadikan batin seseorang dalam kondisi tenang dan nyaman. Hal ini pula sejalan dengan keterangan para ilmuwan kesehatan yang menyebutkan ketenangan jiwa menjadi pendorong lahirnya imunitas di dalam tubuh.

Aktivitas salat dan ibadah lainnya, seperti dzikir kepada Allah dalam situasi Covid-19, menjadi salah satu instrumen untuk menguatkan bangunan keimanan kepada Allah. Keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini atas kehendak Allah, sebagaimana dalam firman Allah “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu” (Qs. Ali ‘Imran [3]: 165), menjadikan diri manusia menjadi lebih pasrah, ikhlas, dan senantiasa optimistis berikhtiar secara lahir dan batin.

Di bagian yang lain, sejak awal pandemi Covid-19 melanda Indonesia, sikap terbuka kalangan agamawan terhadap wabah ini menunjukkan sikap yang dewas dan bijak. Kebijakan beribadah di rumah pada saat awal pandemi, termasuk menjaga jarak shaf dalam salat, merupakan sikap akomodasi yang realistik kalangan agamawan atas kondisi yang terjadi saat ini.

Di titik ini, dapat dimaknai bahwa sains dan agama telah berkolaborasi dalam melawan Covid-19 ini. Pertentangan antara sains dan agama yang selama ini cukup lekat, setidaknya melalui peristiwa Covid-19 ini, menjadikan keduanya dapat seiring dan seirama.

Karena pada hakikatnya, kedua entitas tersebut tidak tepat jika diperhadapkan satu dengan lainnya. Keduanya mesti saling mendukung. Sains bertugas melakukan inovasi untuk kepentingan khalayak sementara agama menjadi pemandu etik dan moral agar sains tetap dalam bingkai kemanusiaan, kemaslahatan, dan keberlanjutan alam semesta.

Dalam konteks Indonesia, dukungan penuh kalangan agamawan dalam melakukan upaya pencegahan penyebaran Covid-19 secara proaktif telah dilakukan. Sejumlah pendapat hukum, seperti Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), memberi dukungan penuh dalam kerja besar pencegahan penyebaran Covid-19 ini.

Peringatan Isra Mikraj yang dilakukan pada masa pandemi ini menjadi momentum penguatan kesalihan individu dengan memperbaiki kualitas salat. Melaksanakan salat dengan baik, khusyuk, thuma’ninah, dan diniatkan sebagai perwujudan kepasrahan diri seorang hamba kepada Allah. Upaya ini semata-mata untuk menjadikan salat kita lebih berkualitas.

Momentum peringatan Isra Mikraj ini juga relevan untuk meningkatkan kesalihan sosial di situasi pandemi ini. Penegakan protokol kesehatan secara konsisten menjadi bagian dari kesalihan sosial yang dibutuhkan saat ini. Di bagian lain, penguatan solidaritas kepada sesama di situasi ekonomi yang melambat ini juga merupakan bagian dari penguatan kesalihan sosial. Wallahu A’lam. []

RELATED ARTICLES

Merindukan Pemimpin Perempuan

KIBLATKU.COM - Kehadiran perempuan dalam podium kekuasaan bukan barang baru. Sejarah mencatat Ratu Bilqis sebagai seorang pemimpin pada masa Nabi Sulaiman. Dikenal...

Ada Apa Dengan Sekularisme

KIBLATKU.COM - Kenangan indah itu bernama sekularisme. Bdadari cantik yang diburu banyak orang bukan sekularisme atau tidak sekularisme, tapi ada wilayah tertentu...

Perbandingan Pengelolaan Dana Haji di Negara Serumpun (Indonesia-Malaysia)

KIBLATKU.COM - Memilukan. Itulah kiranya kata yang tepat menggambarkan perasaan calon jamaah haji 2021 yang resmi dibatalkan karena pandemic covid-19. Kesedihan dan...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Asbihu NU Soroti Pembagian Nilai Manfaat Dana Abadi Umat

Jakarta – Kehadiran Badan Pengelola Keuang Haji (BPKH) sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 34 tahun 2014 tentang pengelolaan keuangan haji dinilai...

Hanya Di BSI, Tarik Tunai Tanpa Kartu ATM, Kok Bisa!

KIBLATKU.COM - PT Bank Syariah Indonesia Tbk terus melakukan terobosan dengan menghadirkan fitur tarik tunai tanpa kartu ATM yaitu hanya dengan menggunakan...

Kemenag Segera Luncurkan Program ‘Sehati’, Sertifikasi Halal Gratis untuk UMK

KIBLATKU.COM - Kemenag segera meluncurkan Program Sertifikasi Halal Gratis (Sehati) untuk UMK (Usaha Mikro dan Kecil). Program ini menjadi bentuk dukungan pemerintah...

Merindukan Pemimpin Perempuan

KIBLATKU.COM - Kehadiran perempuan dalam podium kekuasaan bukan barang baru. Sejarah mencatat Ratu Bilqis sebagai seorang pemimpin pada masa Nabi Sulaiman. Dikenal...

Recent Comments