Saturday, September 18, 2021
Home Kajian Fiqih Ibadah Hukum Membatalkan Puasa Ramadhan bagi Pasien Covid-19

Hukum Membatalkan Puasa Ramadhan bagi Pasien Covid-19

KIBLATKU.COM – Wabah pandemic Covid-19 sudah menginjak satu tahun, jumlah kasus harian masih dinamis. Semakin banyak orang yang dites, maka kasus baru pun bermunculan. Namun, kunci memutus mata rantai dengan penelusuran dan tes usap dinilai belum maksimal. Oleh karena itu, masyarakat perlu mewaspadai dan meningkatkan anjuran pemerintah menerapkan protocol kesehatan (prokes) yang maksimal. Apalagi dihadapkan dengan Bulan Ramadhan, bagi umat muslim harus tetap menjaga kesehatan agar bisa menjalankan ibadah puasa dengan nyaman.

Lantas bagaiman jika masyarakat divonis positif covid-19 sedangkan ia berpuasa?

Dalil Wajib Puasa

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang wajib dilakukan bagi umat Islam. Dalil puasa Ramadan terdapat pada Surat Al-Baqarah ayat 183. Dalam ayat tersebut, Allah berfirman bahwa orang yang beriman wajib berpuasa. “Hai, orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah ayat 183)

Melalui ayat ini dapat dijelaskan bahwa puasa memiliki hukum wajib bagi orang yang beriman. Selain itu, puasa juga termasuk dalam rukun Islam ketiga. Dari ayat ini pula diketahui bahwa Allah menjanjikan ketakwaan bagi orang yang berpuasa.

Keringanan Puasa dalam Keadaan Tertentu

Masyarakat yang ditetapkan secara medis termasuk dalam kategori-kategori pasien Covid-19 termasuk mereka yang terkena kewajiban puasa. Mereka termasuk orang yang menyaksikan bulan Ramadhan.

Pada saat yang sama, mereka memerlukan asupan gizi yang cukup dan teratur untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dan menjaga daya tahan tubuh agar memiliki ketahanan yang lebih baik dari serangan Covid-19. Oleh karena itu, pasien Covid-19 adalah termasuk mereka yang boleh membatalkan puasanya pada hari-hari Ramadhan.

Dalam pandangan fiqih, mereka termasuk orang yang diperbolehkan secara syar’i untuk berbuka puasa pada hari-hari Ramadhan. Dalam Al-Qur’an (Surat Al-Baqarah ayat 185), mereka yang diberikan keringanan untuk berbuka puasa adalah orang sakit dan orang yang menempuh perjalanan. “…Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah ayat 185)

Imam An-Nawawi dalam karya Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftin menjelaskan, Sakit dan perjalanan sebab yang membolehkan pembatalan puasa berdasarkan nash dan ijma ulama. Demikian juga orang yang dilanda haus dan lapar sehingga ia khawatir binasa, maka ia diperbolehkan berbuka puasa meski ia mukim (tidak bepergian) dan sehat secara fisik. Kemudian, syarat kebolehan berbuka puasa karena sakit adalah kesulitan berpuasa yang dideritanya jika berpuasa sehingga ia dihinggapi mudharat yang berat ditanggung sebagaimana kami sebutkan berbagai mudharat pada bab tayammum.

Surat Al-Baqarah ayat 185 menyebut orang sakit termasuk ke dalam mereka yang dapat membatalkan puasa di siang hari Ramadhan. Orang sakit yang dikhawatirkan penyakitnya bertambah karena puasa boleh membatalkan puasanya. “Jika seseorang tidak mampu berpuasa karena penyakit yang dikhawatirkan akan bertambah parah dan masih diharapkan sembuh, maka ia tidak wajib berpuasa,” (Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab)

Dari penjelasan tersebut memberikan keterangan bahwa orang yang sakit termasuk termasuk pasien Covid-19 dan pengidap penyakit lain yang disarankan oleh tenaga kesehatan untuk membatalkan puasa dibolehkan secara syar’i untuk tidak berpuasa tanpa harus menunggu kondisi fisik lemah tidak berdaya. Akan tetapi mereka tetpa wajib mengqadanya sesuai jumlah puasa yang ditinggalkan.

Demikian ketentuan perihal berbuka puasa pada siang hari Ramadhan bagi para pasien Covid-19 untuk menjaga daya tahan tubuh dari serangan virus. Mereka tidak diwajibkan menjalankan ibadah puasa Ramadhan ketika itu juga. Mereka diizinkan secara syar’i untuk mengqadha puasa wajibnya di luar bulan Ramadhan.[] Wallahu a’lam.

RELATED ARTICLES

Kurban Kambing secara Patungan, Bolehkah?

KIBLATKU.COM - Idul Adha identik dengan kurban. Ia sekaligus menjadi ajang berbagi sesama. Pada hari itu, semua muslim di manapun merasakan nikmatnya...

Ketentuan Qurban dan Dasar Hukumnya dalam Islam

KIBLATKU.COM - Idul Fitri dan Idul Adha datang sekali dalam satu tahun. Keduanya adalah hari besar Islam dengan fadhilah yang berbeda. Masing-masing...

Kiat Menghindari Bencana (Musibah) Menurut Alquran dan Hadis

KIBLATKU.COM - Bencana alam bukan sekadar fenomena biasa sebagaimana dipahami orang-orang sekuler. Allah Azza wa Jalla sudah menguraikannya dengan sangat jelas dalam...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Rektor UIN Sumatra Utara Siap Integrasikan Merdeka Belajar dan Wahdatul Ulum

Kiblatku.com - Presiden RI Joko Widodo menghadiri pertemuan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) yang digelar di Solo, Senin (13/9/2021).

Tinjau Vaksinasi Pesantren, Wapres Ingatkan Menjaga Diri Perintah Agama

KIBLATKU.COM - Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin meninjau gelaran vaksinasi dan pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas siswa Madrasah Aliyah di Pondok...

Kemenag Sediakan 6,9M untuk Masjid dan Musala Terdampak Covid, Berikut Syaratnya!

KIBLATKU.COM - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) akan menyalurkan bantuan operasional masjid dan musala di daerah...

Wamenag: Pengusaha Muslimah Wajib Menguasai Literasi Digital

KIBLATKU.COM - Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi mengingatkan para pengusaha muslimah tentang pentingnya penguasaan literasi digital dalam pengembangan usahanya.

Recent Comments