Monday, May 10, 2021
Home Kajian Fiqih Ibadah Hukum Membatalkan Puasa Ramadhan bagi Pasien Covid-19

Hukum Membatalkan Puasa Ramadhan bagi Pasien Covid-19

KIBLATKU.COM – Wabah pandemic Covid-19 sudah menginjak satu tahun, jumlah kasus harian masih dinamis. Semakin banyak orang yang dites, maka kasus baru pun bermunculan. Namun, kunci memutus mata rantai dengan penelusuran dan tes usap dinilai belum maksimal. Oleh karena itu, masyarakat perlu mewaspadai dan meningkatkan anjuran pemerintah menerapkan protocol kesehatan (prokes) yang maksimal. Apalagi dihadapkan dengan Bulan Ramadhan, bagi umat muslim harus tetap menjaga kesehatan agar bisa menjalankan ibadah puasa dengan nyaman.

Lantas bagaiman jika masyarakat divonis positif covid-19 sedangkan ia berpuasa?

Dalil Wajib Puasa

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang wajib dilakukan bagi umat Islam. Dalil puasa Ramadan terdapat pada Surat Al-Baqarah ayat 183. Dalam ayat tersebut, Allah berfirman bahwa orang yang beriman wajib berpuasa. “Hai, orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah ayat 183)

Melalui ayat ini dapat dijelaskan bahwa puasa memiliki hukum wajib bagi orang yang beriman. Selain itu, puasa juga termasuk dalam rukun Islam ketiga. Dari ayat ini pula diketahui bahwa Allah menjanjikan ketakwaan bagi orang yang berpuasa.

Keringanan Puasa dalam Keadaan Tertentu

Masyarakat yang ditetapkan secara medis termasuk dalam kategori-kategori pasien Covid-19 termasuk mereka yang terkena kewajiban puasa. Mereka termasuk orang yang menyaksikan bulan Ramadhan.

Pada saat yang sama, mereka memerlukan asupan gizi yang cukup dan teratur untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dan menjaga daya tahan tubuh agar memiliki ketahanan yang lebih baik dari serangan Covid-19. Oleh karena itu, pasien Covid-19 adalah termasuk mereka yang boleh membatalkan puasanya pada hari-hari Ramadhan.

Dalam pandangan fiqih, mereka termasuk orang yang diperbolehkan secara syar’i untuk berbuka puasa pada hari-hari Ramadhan. Dalam Al-Qur’an (Surat Al-Baqarah ayat 185), mereka yang diberikan keringanan untuk berbuka puasa adalah orang sakit dan orang yang menempuh perjalanan. “…Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah ayat 185)

Imam An-Nawawi dalam karya Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftin menjelaskan, Sakit dan perjalanan sebab yang membolehkan pembatalan puasa berdasarkan nash dan ijma ulama. Demikian juga orang yang dilanda haus dan lapar sehingga ia khawatir binasa, maka ia diperbolehkan berbuka puasa meski ia mukim (tidak bepergian) dan sehat secara fisik. Kemudian, syarat kebolehan berbuka puasa karena sakit adalah kesulitan berpuasa yang dideritanya jika berpuasa sehingga ia dihinggapi mudharat yang berat ditanggung sebagaimana kami sebutkan berbagai mudharat pada bab tayammum.

Surat Al-Baqarah ayat 185 menyebut orang sakit termasuk ke dalam mereka yang dapat membatalkan puasa di siang hari Ramadhan. Orang sakit yang dikhawatirkan penyakitnya bertambah karena puasa boleh membatalkan puasanya. “Jika seseorang tidak mampu berpuasa karena penyakit yang dikhawatirkan akan bertambah parah dan masih diharapkan sembuh, maka ia tidak wajib berpuasa,” (Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab)

Dari penjelasan tersebut memberikan keterangan bahwa orang yang sakit termasuk termasuk pasien Covid-19 dan pengidap penyakit lain yang disarankan oleh tenaga kesehatan untuk membatalkan puasa dibolehkan secara syar’i untuk tidak berpuasa tanpa harus menunggu kondisi fisik lemah tidak berdaya. Akan tetapi mereka tetpa wajib mengqadanya sesuai jumlah puasa yang ditinggalkan.

Demikian ketentuan perihal berbuka puasa pada siang hari Ramadhan bagi para pasien Covid-19 untuk menjaga daya tahan tubuh dari serangan virus. Mereka tidak diwajibkan menjalankan ibadah puasa Ramadhan ketika itu juga. Mereka diizinkan secara syar’i untuk mengqadha puasa wajibnya di luar bulan Ramadhan.[] Wallahu a’lam.

RELATED ARTICLES

Awas Ya! Jangan Lupa Niat agar Puasa Ramadhan Tetap Sah

KIBLATKU.COM - Sudah menjadi pemahaman bersama umat Islam di Indonesia yang notabene mayoritas bermazhab Syafi’i, bahwa niat puasa wajib khususnya puasa Ramadhan...

Tafsir Surat Al-Qadr: Keistimewaan Malam Lailatul Qadar

KIBLATKU.COM - Tak terasa kita sudah mulai memasuki hari-hari terakhir bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Sebagai umat yang cerdas, kita harus memanfaatkan momen...

Kisah Turunnya Al-Quran ke Muka Bumi

KIBLATKU.COM - Inilah kisah detik-detik turunnya Al-Quran dari Langit menuju Bumi manusia. yang kita peringati sebagai malam Nuzulul Quran. Malam Nuzulul Quran...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Aplikasi Bayar Zakat Fitrah Online

KIBLATKU.COM - Mendekati hari Lebaran, umat muslim di Tanah Air mulai menyalurkan zakat fitrah. Lantaran masih pandemi COVID-19 yang mengharuskan kita beraktivitas...

Dukung Kaum Millenial, BSI Luncurkan Griya Simuda

KIBLATKU.COM - PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) meluncurkan pembiayaan perumahan BSI Griya Simuda yang menyasar segmen milenial, dengan target penyaluran pada...

Penyelenggaraan Idul Fitri di Tengah Pandemi, Simak Panduannya!

KIBLATKU.COM - Idul Fitri 1442 H/2021 M masih dalam suasana pandemi. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan panduan penyelenggaraan Salat Idul Fitri...

Seleksi Mandiri UIN Jakarta Dibuka 10 Mei, Simak Jadwalnya

KIBLATKU.COM - Pendaftaran seleksi penerimaan calon mahasiswa baru UIN Jakarta tahun akademik 2020/2021 melalui jalur Seleksi Mandiri (SPMB Mandiri) akan dibuka mulai...

Recent Comments