Friday, July 23, 2021
Home Hukum Islam Kurban Kambing secara Patungan, Bolehkah?

Kurban Kambing secara Patungan, Bolehkah?

KIBLATKU.COM – Idul Adha identik dengan kurban. Ia sekaligus menjadi ajang berbagi sesama. Pada hari itu, semua muslim di manapun merasakan nikmatnya makan daging kurban. Bagi orang kaya mungkin makan sesuatu yang lumrah, namun hal ini sangat istimewa bagi orang yang tidak mampu. Bahkan, bisa jadi mereka hanya sekali dalam setahun makan daging.

Spirit berkurban tidak hanya untuk menyejahterakan fakir miskin dengan membagikan dagingnya, tapi juga merupakan momentum untuk menjalin solidaritas dan semangat gotong royong. Apalagi di tengah pandemi sekarang ini yang menuntut kita untuk merawat nilai-nilai kebersamaan antar ummat.Saat hari raya Idul Adha, masyarakat berbondong-bondong meramaikan dan saling bantu-membantu menyukseskan pelaksanaan ibadah kurban, mulai dari proses penyembelihan, pembagian hingga melahap dagingnya secara bersama-sama.

Semangat kebersamaan juga terjalin di kalangan pihak yang berkurban. Sering dijumpai praktik patungan atau kongsi untuk membeli binatang kurban, misalnya di sekolahan, mitra kerja dan tempat lainnya. Sebagian di antaranya patungan membeli kambing, ini biasa terjadi untuk mereka yang terkendala dana. Bagaimana hukumnya?

Dasar Hukum

Syariat telah menetapkan standar maksimal jumlah kapasitas mudlahhi (orang yang berkurban) untuk per satu ekor hewan kurban, yaitu unta dan sapi untuk tujuh orang, sementara kambing hanya sah dibuat kurban satu orang. Oleh sebab itu, bila melampaui batas ketentuan ini, binatang yang disembelih tidak sah menjadi kurban, misalnya patungan sapi untuk delapan orang atau kambing untuk dua orang.

Ketentuan ini berlandaskan pada hadits: “Dari jabir, beliau berkata kami keluar bersama Rasulullah seraya berihram haji, lalu beliau memerintahkan kami untuk berserikat di dalam unta dan sapi, setiap tujuh orang dari kami berserikat dalam satu ekor unta,” (HR Muslim).

Berdasarkan dalil di atas, muncullah sebuah produk hukum rumusan ulama sebagai berikut: “Menurut mazhab Syafi’i, dan kami tidak mengetahui pendapat yang menyelesihinya, tidak boleh berkurban dengan satu kambing untuk satu orang lebih,” (Syekh al-Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 258).

Hujjah yang Salah

Meski demikian, beredar dikalangan masyarakat, ada sebagian yang berasumsi bahwa, patungan satu ekor kurban kambing diperbolehkan dengan berlandaskan kepada sebuah hadits bahwa Nabi mengeluarkan kurban untuk keluarga dan umatnya hanya dengan dua ekor kambing. Menurut mereka hadits tersebut merupakan bukti bahwa kurban kambing untuk satu orang lebih diperbolehkan. Berikut hadits yang menjadi dasar asumsi di atas: “Nabi berkurban dengan dua kambing gibas dan berdoa, ‘Ya Allah terimalah dari Muhammad, keluarga dan umatnya,” (HR. Muslim).

Hadits di atas sesungguhnya belum cukup dijadikan hujjah (argumentasi) untuk mengesahkan kurban patungan kambing. Sebab hadits tersebut tidak berbicara dalam konteks patungan atau kongsi berkurban kambing, tapi berkaitan dengan al-isyrak fi al-tsawab (menyertakan orang lain dalam pahala kurban).

Jadi, sebetulnya yang berkurban hanya Nabi, dan beliau menghadiahkan pahala berkurbannya untuk keluarga dan umatnya, mereka yang disertakan Nabi dalam pahala kurbannya sama sekali tidak memiliki andil biaya untuk membeli kambing. Hal ini jelas berbeda dengan kasus berkurban kambing secara kongsi yang masing-masing berkontribusi secara finansial untuk membeli binatang kurban.   Menghadiahkan pahala kurban untuk keluarga atau orang lain, berimplikasi kepada gugurnya tuntutan berkurban untuk orang lain. Sementara hasilnya ibadah kurban dan pahalanya secara hakiki, hanya didapatkan oleh mudlahhi.

Simpulannya, patungan membeli kambing hukumnya tidak sah atas nama kurban, bila hal tersebut terlanjur dilakukan, maka status daging yang disembelih adalah sedekah biasa yang berpahala, tapi tidak memiliki konsekuensi seperti kurban. Solusi agar tetap sah atas nama kurban bisa ditempuh misalnya dengan sebuah skenario; uang yang terkumpul dihibahkan kepada satu orang untuk kemudian dibelikan kambing. Dengan begitu, kambing yang dibeli menjadi miliknya secara utuh dan sah dikurbankan atas namanya, ia juga bisa memberikan pahala kurbannya untuk segenap orang yang tergabung dalam kongsi. Bila skenario ini dirasa maslahat dan disetujui segenap anggota kongsi, tidak ada salahnya untuk diterapkan.[] Wallahu a’lam.

RELATED ARTICLES

Ketentuan Qurban dan Dasar Hukumnya dalam Islam

KIBLATKU.COM - Idul Fitri dan Idul Adha datang sekali dalam satu tahun. Keduanya adalah hari besar Islam dengan fadhilah yang berbeda. Masing-masing...

Kiat Menghindari Bencana (Musibah) Menurut Alquran dan Hadis

KIBLATKU.COM - Bencana alam bukan sekadar fenomena biasa sebagaimana dipahami orang-orang sekuler. Allah Azza wa Jalla sudah menguraikannya dengan sangat jelas dalam...

Masih Ada Waktu, Berikut Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

KIBLATKU.COM - Setelah melaksanakan kewajiban berpuasa selama satu bulan di bulan Ramadhan, kemudian diakhiri dengan merayakan Idul Fitri, ada salah satu anjuran...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Hanya Di BSI, Tarik Tunai Tanpa Kartu ATM, Kok Bisa!

KIBLATKU.COM - PT Bank Syariah Indonesia Tbk terus melakukan terobosan dengan menghadirkan fitur tarik tunai tanpa kartu ATM yaitu hanya dengan menggunakan...

Kemenag Segera Luncurkan Program ‘Sehati’, Sertifikasi Halal Gratis untuk UMK

KIBLATKU.COM - Kemenag segera meluncurkan Program Sertifikasi Halal Gratis (Sehati) untuk UMK (Usaha Mikro dan Kecil). Program ini menjadi bentuk dukungan pemerintah...

Merindukan Pemimpin Perempuan

KIBLATKU.COM - Kehadiran perempuan dalam podium kekuasaan bukan barang baru. Sejarah mencatat Ratu Bilqis sebagai seorang pemimpin pada masa Nabi Sulaiman. Dikenal...

Ada Apa Dengan Sekularisme

KIBLATKU.COM - Kenangan indah itu bernama sekularisme. Bdadari cantik yang diburu banyak orang bukan sekularisme atau tidak sekularisme, tapi ada wilayah tertentu...

Recent Comments