Wednesday, June 23, 2021
Home Kajian Masih Ada Waktu, Berikut Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

Masih Ada Waktu, Berikut Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

KIBLATKU.COM – Setelah melaksanakan kewajiban berpuasa selama satu bulan di bulan Ramadhan, kemudian diakhiri dengan merayakan Idul Fitri, ada salah satu anjuran (baca: sunnah) yang dapat dilakukan umat Islam.

Secara umum, kewajiban dan larangan-larangan dalam Islam sudah final dan diatur oleh syariatnya. Hanya saja, Islam melalui diutusnya Nabi Muhammad Saw memberikan kebebasan, berupa anjuran-anjuran untuk menambah dalam beribadah. Sebagian anjuran itu diantaranya, seperti anjuran berpuasa 6 hari setelah bulan Ramadhan yang biasa disebut Puasa Syawal. Lantas bagaiman hukum dan hikmah puasa syawal.

Hukum dan Keutamaannya
Sudah cukup masyhur bahwa selepas puasa Ramadhan sebulan penuh dan merayakan hari Idul Fitri 1 Syawal, umat Islam dianjurkan untuk berpuasa enam hari di dalam bulan Syawal. Hal ini mengacu pada hadits shahih riwayat Imam Muslim: “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian menyambungnya dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka pahalanya sama dengan puasa selama satu tahun.” (HR Muslim)

Dengan hadits di atas, para ulama ahli hadits dan ahli fiqih mengatakan bahwa berpuasa 6 hari pada bulan Syawal hukumnya sunnah, juga karena Rasulullah tidak pernah meninggalkan amalan puasa tersebut. Namun, yang terpenting dari dianjurkannya puasa pada bulan Syawal bukan sekadar tentang sunnahnya. Lebih dari itu, syariat Islam ingin memberikan jalan gampang pada pemeluknya untuk bisa mendapatkan pahala sebanding dengan puasa satu tahun, tanpa harus melakukannya selama satu tahun penuh.

Seperti halnya bulan-bulan lain dalam kalender Hijriah, bulan Syawal memiliki keistimewaan tersendiri, masa-masa untuk melakukan kebaikan dan ketaatan selalu berganti, dari waktu ke waktu. Ketika Ramadhan berakhir, datanglah penggantinya berupa bulan Syawal, yakni bulan disyariatkannya berpuasa selama 6 hari.

Puasa 6 hari pada bulan Syawal merupakan amalan khusus yang dilakukan oleh umat Nabi Muhammad ﷺ, dan nilai pahala yang juga khusus. Bahkan harus disyukuri, sebagai umat akhir zaman bisa dikatakan paling banyak diberikan dispensasi ketika dibandingkan dengan umat-umat Nabi sebelumnya, karena Allah tidak ingin memberikan beban terlalu berat kepada umat Nabi Muhammad, sehingga Rasulullah mencukupkan puasa Ramadhan, kemudian disambung dengan 6 hari pada bulan Syawal untuk bisa mendapatkan pahala yang sebanding dengan pahala puasa selama satu tahun penuh.

Niat dan Waktu
Niat puasa Syawal sama sebagaimana puasa sunnah lainnya, tak mesti dilakukan di malam hari atau sebelum terbit fajar. Artinya, sesorang yang malam harinya tak berniat, tapi mendadak di pagi atau siang hari ingin mengamalkan puasa Syawal, diperbolehkan baginya berniat sejak ia berkehendak puasa sunnah saat itu juga. Tentu saja dengan catatan, sejauh yang bersangkutan belum makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh.

Niat tersebut cukup digetarkan di dalam hati bahwa ia bersengaja akan menunaikan puasa sunnah Syawal. Tanpa mengucapkan niat secara lisan, puasa sudah sah. Untuk memantapkan, ulama menganjurkan melafalkannya sebagai berikut:  
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ (Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah ta’ala).

Sedangkan ketentuan waktu kapan puasa Syawal dimulai? Idealnya tentu saja enam hari berturut-turut persis setelah hari raya Idul Fitri, yakni tanggal 2-7 Syawal. Tetapi orang yang berpuasa di luar tanggal itu, sekalipun tidak berurutan, tetap mendapat keutamaan puasa Syawal seakan puasa wajib setahun penuh.

Oleh karena itu, seseorang diperkenankan menentukan puasa Syawal, misalnya tiap hari Senin dan Kamis, melewati tanggal 13, 14, 15, dan seterusnya selama masih berada di bulan Syawal. Seandainya seseorang berniat puasa Senin-Kamis atau puasa bidh (13,14,15 setiap bulan Hijriah), ia tetap mendapatkan keutamaan puasa Syawal sebab tujuan dari perintah puasa rawatib itu adalah pelaksanaan puasanya itu sendiri terlepas apa pun niat puasanya (Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj).

Demikian penjelasan singkat terkait puasa Syawal. Bagi Anda yang belum melaksanakan amalan ibadah tersebut masih bisa dilakukan hingga bulan Syawal berakhir, tepatnya pada 11 Juni 2021. []

RELATED ARTICLES

Kiat Menghindari Bencana (Musibah) Menurut Alquran dan Hadis

KIBLATKU.COM - Bencana alam bukan sekadar fenomena biasa sebagaimana dipahami orang-orang sekuler. Allah Azza wa Jalla sudah menguraikannya dengan sangat jelas dalam...

Puasa Qadha, Ketentuan dan Waktu Terbaiknya

KIBLATKU.COM - Mudik merupakan tradisi yang sudah melekat di republik ini meski di era pandemi Covid-19, masyarakat masih ‘nekad’ memanfaatkan momen Idul...

Subhanallah, Inilah Manfaat Membaca Alquran Bagi Kesehatan

KIBLATKU.COM - Akhir-akhir ini, wabah virus corona kembali menghantui warga dunia dengan penambahan kasus yang signifikan dari ragam mutasi virus Covid-19 tersebut, tak terkecuali...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Resmi Dirilis, Inilah Edaran Prokes Penyelenggaraan Salat Iduladha dan Qurban 1442 H

KIBLATKU.COM - Kementerian Agama menerbitkan edaran tentang penerapan protokol kesehatan dalam penyelenggaraan Salat Iduladha 1442 H/2021 M dan pelaksanaan qurban di masa...

BPJPH Kembali Fasilitasi Sertifikasi Halal Produk UMK

KIBLATKU.COM - Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag tahun ini akan kembali memfasilitasi sertifikasi halal produk pelaku usaha mikro dan kecil...

Sukses Gelar Munas IX, Iwapi Ajak Pengusaha Wanita Beralih ke Digital Marketing

KIBLATKU.COM - Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia atau IWAPI sukses menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-IX secara online dan offline yang diikuti ribuan anggota...

Bima Arya Buka Pameran Perupa Perempuan Bogor

Kiblatku.com - Perupa Perempuan Bogor bekerjasama dengan Rancamaya Golf Estate dan Bank BJB didukung Pemkot Bogor, menggelar Pameran Seni Rupa pada 20-27...

Recent Comments