Thursday, October 28, 2021
Home Kajian Fiqih Ibadah Masuk Masjid Pakai Handsanitizer, Apakah Sah Shalatnya?!

Masuk Masjid Pakai Handsanitizer, Apakah Sah Shalatnya?!

kiblatku.com – Pandemi Covid-19 yang melanda Dunia, telah merubah tatanan kehidupan umat manusia, beberapa negara menerapkan protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penularan virus yang pada awalnya muncul di Wuhan China ini, mulai dari penerapan lockdown atau dikenal sebagai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

PSBB telah mulai merubah segala lini kehidupan masyarakat, mulai dari aspek sosial, ekonomian, transportasi, pendidikan bahkan kegiatan ibadah. Oleh sebab itu, guna memutus penyebaran Covid-19, pemerintah menghimbau agar masyarakat menjalankan protokol kesehatan seperrti rajin mencuci tangan menggunakan handsanitier. Lantas bagaiman jika umat muslim yang akan menjalankan ibadah shalat, sedangkan bahan bakunya terbuat dari alkohol?

Perbedaan Pendapat

Kesucian di pakaian, badan, dan tempat shalat merupakan syarat sah ibadah shalat. Sementara alkohol merupakan bahan baku hand sanitizer atau cairan antiseptik tangan, oleh sebagian orang diyakini sebagai zat memabukkan yang diidentikkan dengan najis.

Adapun status zat alkohol sendiri masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama menyatakan status najis bagi alkohol, meski pemakaiannya pada parfum dan obat sebatas hajat tetap diperbolehkan (ma‘fu).

Sementara sebagian ulama kontemporer seperti Abdurrahman Al-Jaziri menyatakan kesucian zat alkohol yang dicampurkan pada obat dan aroma harum parfum untuk memberi efek maslahat padanya. Ulama kontemporer lainnya, menyatakan kesucian alkohol antara lain adalah Syekh Wahbah Az-Zuhayli. Menurutnya, alkohol baik murni maupun campuran itu suci. Sedangkan kata “rijsun” di dalam Alquran tidak dapat dimaknai sebagai kotoran dalam arti najis, tetapi kotor sebagai perbuatan dosa.

Ulama yang menyatakan Zat alkohol tidak najis merujuk pada kaidah dasar yang mengatakan ‘segala sesuatu asalnya adalah suci’, baik itu adalah alkohol murni maupun alkohol yang telah dikurangi kandungannya dengan campuran air dengan mengunggulkan pendapat yang mengatakan bahwa najis khamr dan semua zat yang memabukkan bersifat maknawi, bukan harfiah, dengan pertimbangan bahwa itu adalah kotor sebagai perbuatan setan.

Artinya, pemakaian alkohol untuk kepentingan medis tidak bermasalah secara syar’i misalnya untuk mensterilkan kulit, luka, obat, dan membunuh bakteri; atau pemakaian parfum atau kolonye dan krim yang mengandung alkohol.

Boleh Selama untuk Kemaslahatan

Dari pelbagai pandangan di atas, shalat dengan pemakaian hand sanitizer tanpa mencuci tangan terlebih dahulu tetap sah karena pemakaiannya sebatas hajat dimaafkan meski berstatus najis bagi sebagian ulama, terlebih lagi menurut ulama yang menyatakan kesucian alkohol.

Terlepas dari itu semua, penyalahgunaan zat alkohol untuk diminum biasanya yang hari ini diidentikkan dengan khamr (minuman yang memabukan) dilarang keras oleh agama dan mengandung dosa besar. Meski demikian, alkohol mengandung manfaat bagi manusia termasuk untuk membasmi kuman dan lain sebagainya seperti pendapat ulama fikih masa kini sekelas Syekh Wahbah Az-Zuhayli.

Lalu bagaimana jika masih ragu tentang pemakaian hand sanitier, apakah najis atau tidak. Jika terjadi keraguan semacam ini, kita harus memilih sesuai kebijaksanaannya. Boleh memilih memutuskan sebagai najis atau suci. Jika memang memutuskan bahwa alkohol adalah najis, konskuensinya jangan menggunakan antiseptic berbahan dasar alkohol dan berusaha menghindari kemungkinan tertular virus Covid-19, seperti cukup mencuci tangan dan tidak bersalaman dengan jamaah lainnya. Sebaliknya, apabila memutuskan bahwa alkohol tidaklah najis, maka pergunakanlah cairan tersebut demi kemaslahatan dan kenyamanan ibadah kita. Apalagi wabah Covid-19 masih menjadi momok warga dunia.[] Wallahu’alam

RELATED ARTICLES

Polemik Pencatatan Nikah Siri, Ini Komentar Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta

KIBLATKU.COM - Polemik tentang pernikahan siri dapat ditulis di Kartu Keluarga (KK) menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Ini dipicu dari keberadaan Peraturan...

Kurban Kambing secara Patungan, Bolehkah?

KIBLATKU.COM - Idul Adha identik dengan kurban. Ia sekaligus menjadi ajang berbagi sesama. Pada hari itu, semua muslim di manapun merasakan nikmatnya...

Ketentuan Qurban dan Dasar Hukumnya dalam Islam

KIBLATKU.COM - Idul Fitri dan Idul Adha datang sekali dalam satu tahun. Keduanya adalah hari besar Islam dengan fadhilah yang berbeda. Masing-masing...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

UIN Jakarta Raih Predikat Perguruan Tinggi Menuju Informatif

KIBLATKU.COM - Komisi Informasi Pusat (KIP) menggelar Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2021....

BPJPH Dorong Terbentuknya Lebih Banyak Lembaga Pemeriksa Halal

KIBLATKU.COM - Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag Muhammad Aqil...

Kapolri dan Para Tokoh Nasional Apresiasi  HUT Gerakan Indonesia Optimis ke-3

Jakarta - Sejumlah tokoh nasional, petinggi TNI, Polri, ulama, artis, dan ketua OKP memberikan testimoni pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Gerakan...

Polemik Pencatatan Nikah Siri, Ini Komentar Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta

KIBLATKU.COM - Polemik tentang pernikahan siri dapat ditulis di Kartu Keluarga (KK) menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Ini dipicu dari keberadaan Peraturan...

Recent Comments