Saturday, April 17, 2021
Home Kajian Fiqih Ibadah Begini Ketentuan Menolak Hubungan ‘Suami-Istri’ sesuai Syariat

Begini Ketentuan Menolak Hubungan ‘Suami-Istri’ sesuai Syariat

KIBLATKU.COM – Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih kerap terjadi dan menghiasi jagad pemberitaan media di tanah air. KDRT merupakan semua bentuk perilaku ancaman, pelecehan, dan kekerasan baik secara fisik, psikologis, dan seksual antara dua orang yang terikat hubungan personal. Pelakunya bisa juga merupakan mantan pasangan meskipun sudah berpisah. Semua orang dapat berpeluang menjadi pelaku ataupun korban. Namun faktanya, sebagian besar korban KDRT di Indonesia adalah wanita.

Ada banyak faktor yang melatar belakangi terjadinya perilaku menyimpang tersebut, salah satunya adalah faktor ekonomi. Namun yang paling mencengangkan, beberapa peristiwa terjadi hanya disebabkan oleh faktor yang ‘sepeleh’. Misalnya dari beberapa telusuran redaksi mencatat, di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah seorang suami melakukan kekerasan dalam rumah tangga yang disebabkan lantaran pelaku kecewa dan marah, gara-gara istri tidak bisa bersolek atau berdandan. Di Bojongsari Depok, seorang suami aniaya istri lantaran tidak menyiapkan makan siang. Dan di Cilegon Banten, seorang suami tega aniaya istrinya lantaran menolak hubungan intim hingga meregang nyawa bersama anaknya. Naudzubillah

Untuk kasus terakhir tersebut, sejatinya masih banyak peristiwa serupa yang terjadi di beberapa daerah yang patut menjadi perhatian. Lantas seperti apa hukumnya menolak hubungan suami-istri dalam Islam?

Hak dan Kewajiban

Jjika dua insan sudah terikat dalam ikatan pernikahan, maka keduanya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Artinya, satu sama lainnya harus salang memenuhi hak pasangannya dan melakukan kewajiban terhadap pasangannya. Pun demikian dalam hubungan ‘suami-istri (intim.red)’. Karena hubungan ‘suami-istri’ merupakan kewajiban bagai keduanya.

Wajib di sini adalah bila perkara ini tiada ditunaikan maka akan mendatangkan dosa atas pelanggaran syara’ dalam hak dan kewajiban dalam pernikahan. Dan hendaknya seorang istri menuntut haknya dan suami menuruti tuntutan istrinya atas haknya dan menjalankan kewajibanya selaku suami. Jadi kesimpulanya adalah seorang suami dibebankan kewajiban untuk menyenggamai istrinya, jika tidak menggauli istrinya, maka ia juga dikenai dosa atas kelalaian kewajibanya dan kedzolimanya. Keduanya, suami dan istri saling berkewajiban untuk melakukan hubungan seks. Karena dalam masalah pernikahan keduanya memiliki satu hak antara satu dengan lainya dan satu kewajiban antara satu dengan lainya. Allah Swt berfirman : “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.”(QS.2:228)

Menolak Secara Syariat

Tujuan pernikahan dalam Islam yakni untuk mendapatkan keturunan. Hal tersebut diperoleh dengan cara melakukan hubungan suami istri atau bersetubuh. Namun, dalam beberapa kondisi boleh menolak sesuai ketentuan sebagaimana yang telah diatur sesuai syariat Islam, yakni:

Pertama, dalam kondisi haid. Bersenggama dalam kondisi istri sedang haid adalah haram, sebagaimana Al-Qur’an menyatakan, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘haid itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Q.S : Al-Baqarah : 222)

Kedua, Istri Sedang Dalam Kondisi Hamil. Kehamilan merupakan fase yang membahagiakan, dimana menjadi sesuatu yang diharapkan bagi semua pasangan yang sudah menikah. Kondisi hamil menyebabkan kita sulit untuk melakukan aktivitas termasuk juga dalam aktivitas seks. Tentunya hal ini, merupakan salah satu alasan penolakan terhadap ajakan suami untuk bersetubuh. Selain kondisi yang tidak memungkinkan, dikhawaturkan aktifitas hubungan seks tersebut dapat menganggu dan bahkan membahayakan janin yang ada di dalam kandungan.

Ketiga, tidak dalam keadaan bugar atau sedang sakit. Satu lagi alasan yang diperbolehkan untuk digunakan sebagai bentuk penolakan ajakan suami bersetubuh, ialah kondisi istri sedang sakit. Dalam hal ini, sakit yang dimaksud ialah yang membuat bedan tidak memiliki kemampuan dan tenaga untuk melakukam aktivitas. Maka dalam hal ini, istri diperbolehkan menolak ajakan suami. Karena dikhawatirkan jika dipaksakan maka akan dapat berimbas kepada semakin memburuknya kesehatan istri. Karenanya lebih baik lakukan tindakan recovery yang dapat membuat kondisi badan kembali menjadi sehat.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai hukum istri menolak ajakan bersetubuh suami dalam Islam yang wajib diketahui. Tentnya semoga informasi ini dapat bermanfaat terutama bagi Anda yang sedang menjalani kehidupan berumahtangga. Semoga selalu harmonis dan bahagia. Amiin

RELATED ARTICLES

Doa Hari Ke-5 Bulan Ramadhan

KIBLATKU.COM - Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw telah menjelaskan keutamaan yang tak terhingga bagi puasa pada setiap hari dalam bulan...

Tingkatan Orang Berpuasa Menurut Imam Ghazali

KIBLATKU.COM - Istilah puasa dala bahasa Arab disebut “as-Shiyaam” atau “as-Shaum” yang berarti “menahan”. Sedangkan menurut yang dikemukakan oleh Syeikh Al-Imam Al-‘Alim...

Doa Hari Ke-2 Bulan Ramadhan

KIBLATKU.COM - Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw telah menjelaskan keutamaan yang tak terhingga bagi puasa pada setiap hari dalam bulan...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Doa Hari Ke-5 Bulan Ramadhan

KIBLATKU.COM - Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw telah menjelaskan keutamaan yang tak terhingga bagi puasa pada setiap hari dalam bulan...

Presiden Serahkan Zakat, Sekaligus Luncurkan Gerakan Cinta Zakat

KIBLATKU.COM - Presiden Joko Widodo hari ini, Kamis (15/4/2021), menyerahkan zakat kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) di Istana Negara, Jakarta. Acara tersebut digelar...

Tingkatan Orang Berpuasa Menurut Imam Ghazali

KIBLATKU.COM - Istilah puasa dala bahasa Arab disebut “as-Shiyaam” atau “as-Shaum” yang berarti “menahan”. Sedangkan menurut yang dikemukakan oleh Syeikh Al-Imam Al-‘Alim...

BJPH Gelar Public Hearing Layanan Halal Digital

KIBLATKU.COM - Sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas layanan Jaminan Produk Halal (JPH), Badan Penyeleggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama mengadakan...

Recent Comments