Monday, May 10, 2021
Home Kolom Pitakon (Pertanyaan) Kubur

Pitakon (Pertanyaan) Kubur

Oleh: Ubaidillah Syatibi (Pegiat Dakwah dan Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2004)

Weruhe sire wong akhir balik sedaye

pertakonan kubur ye iku enem perkare

Kang dihin takon pengeranire

Lang kapingdo takun nabi nire

Lan kaping telo takon panutanire

Lan kaping papat takon agamanire

Lan kaping lime takon kiblatire

Lan kaping enem takon ikhwanire

Lamun takon malaikat pengeranire, sire jawabe Allah ta’ala pengeran kaule

Lamun takon mailikat nabinire, sire jawabe Nabi Muhammad nabi kaule

Lamun takon malaikat panutanire, sire jawabe kitab al quran panutan kaule

Lamun takon malaikat agamanire, sire jawabe agama islam agama kaule

Lamun takon malaikat ikhwanire, sire jawabe wong mukmin sedulur kaule

Lamun wis bise jawab enem perkare angandikane mailaikat maring sire

Pangandikane wis sire pade turu’e kaye turune penganten ayar maring sire

Mala putre wis sire apalene, mbok menawe besuk mati pade mulye

KIBLATKU.COM – Ketahuilah bahwa semuanya akan kembali, pertanyaan di dalam kubur yaitu ada enam perkara, yang pertama, menanyakan siapa tuhanmu, dan yang kedua, menyakan siapa nabimu, yang ke tiga apa tuntutanmu, yang keempat apa agamamu, yang kelima apa kiblatmu, dan yang terakhir siapa saudaramu. Jika malaikat bertanya siapa tuhanmu, kamu jawabnya Allah ta’ala Tuhanku, jika malaikat bertatanya siapa nabimu, kamu jawabnya nabi Muhammad nabiku, jika malaikat bertanya apa tuntunanmu, kamu jawabnya Al Quran tuntunanku, jika malaikat bertanya apa kiblatmu, kamu jawabnya baitullah kiblatku, jika malaikat bertanya siapa saudaramu, kamu jawabnya orang mukmin saudaraku. Jika usdah bisa menjawab enam perkara, maka malaikat mempesilahkan kepadamu, mempersilahkan untuk tidur, seperti tidurnya pengantin baru, wahai anak anakku apalkanlah, semoga nanti kalau mati menjadi mulia.

Khusus untuk tulisan ini rasanya saya ingin menyampaikannya dengan serius, tidak ada guyon guyonan, karena ini maslah etika sama orang tua, nanti kalau nulis sambil cengengesan dikira saya tidak sopan alias dusun, nanti saya disumpahin kwalat sama kakek buyut yang sudah berada di alam sana sambil terus mengawasi gerak gerik saya selama ini, terkadang mereka berkunjung, mengganggu saya yang sedang menikmati tidur sambil marah marah karena kata beliau saya sudah menjauhi gusti Allah, akalnya masih maghrib, masih teracuni oleh kotoran kotoran duniawi, dan harus segera bangun untuk mandi taubat membersihkan diri dari kotoran yang menempel di badan saya. Enthalah itu hanya sebagai bunga tidur saja atau memang benar benar ro’aitu fil manam kalau memang benar itu bukan hanya sekedar bunga tidur saja, cilaka dua belas saya ini, ternyata thorikat yang saya lakukan selama ini masih belum mampu mengusir maghrib dari alam fikiran saya.

Seperti halnya para walisanga, meninggalkan berbagai macam warisan yang bersifat  nasehat, ilmu, cerita yang mengandung nilai spiritualitas – sosial untuk di jadikan pegangan hidup bagi siapa saja yang menyempatkan diri untuk menerawang kehidupan para walisongo melalui informasi informasi yang ia dapat. Begitu juga kakek buyut saya,   mereka sudah lama meninggalkan dunia ini, tapi nasehat, lelaku, dan warisan yang ditinggalkan untuk para anak cucunya bukan harta, tapi mereka meninggalkan bait bait syair di atas yang di berikan nada supaya ketika dibacanya menjadi enak di dengar, orang orang di kampung saya menyebutnya shalawat pitakon kubur. Anak cucunya sering membacakan syair pitakon kubur ini pada bulan ramadan setiap habis shalat maghrib sampai menjelang shalat isa.

Menurut orang orang tua dulu, setiap orang yang baru saja meninggal dunia, ketika memasuki liang lahat kemudian di timbun oleh tanah, setelah itu dua malaikat yang akan menyatroni si mayit ini dengan mengajukan enam  pertanyaan, seandainya ia mampu menjawab seluruh pertanyaan ini dengan baik dan benar maka para malaikat tersebut mempersilahkan kepadanya untuk beristirahat layaknya pengantin baru. Namun sebaliknya, jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan enam poin tersebut malaikat tidak sungkan sungkan untuk menghajarnya sampai hari kebangkitan.

Begitulah penjelasan para kakek buyut saya, bahwa kehidupan jika disingkat hanya menjadi enam pertanyaan tersebut, jadi saya disuruh menghapal, jika nanti ketika saya yang mendapat giliran pulang kampung dan bertemu dengan malaikat sudah mempersiapkan dan hapal pertanyaan pertanyaan yang akan di ajukan malaikat kepada saya. Semoga saja memang betul hanya enam perkara saja yang di tanyakan, kalau pertanyaannya sampai lima puluh perkara bisa kelenger saya di gebukin malaikat.

Membaca kembali bait demi bait shalawat pitakon kubur diatas kok sepertinya saya tergelitik untuk mencoba menafsirkan sedikit berbeda, bukan berarti saya menyangkal penjelasan kakek buyut saya tentang penjelasan pitakon kubur, mana berani saya, kalau sama sosok manusianya sih saya berani, hanya saja sama kewalatnya ini yang paling saya takuti. Tapi kan kalau memang saya memiliki cara pandang sendiri terhadap sesuatu yang saya lihat dan itu tidak merugikan siapa siapa saya pikir sah sah saja, dan seharusnya kita memiliki keelastisan berfikir jangan terlalu kaku dalam menginterprestaikan sesuatu, ke elastisan itu penting menurut saya, bisa mengatur kapan harus keras kapan harus lembek, dimana harus “tegang” dimana juga harus relax, kalau relax terus bisa bisa disuruh tidur di teras rumah.

Kembali kepada warisan kakek buyut yang sangat berharga ini, enam perkara yang harus di ingat ingat kalau perlu di hapalkan, enam perkara yang menurut kakek buyut saya sebagai kunci mendapatkan  kebahagian di alam kubur, jika enam perkara ini gagal menjawabnya sudah di pastikan siksa kubur yaang akan menjadi teman karib selama berada dalam masa penantian untuk melanjutkan kehidupan selanjutnya, yaitu kehidupan versi alam mahsyar, yang konon katanya di alam mahsyar ini jarak matahari dari kepala hanya berkisar sepulung jengkal tangan saja, jika memang demikian bisa di bayangkan kalau di alam mahsyar sana suhu panasnya luar biasa dahsyatnya.

Kalau hanya menghapal saja rasanya tidak begitu susah, hanya butuh beberapa jam saja jawaban jawaban tersebut kita save di dalam memori otak kita, nah masalahnya apakah otak kita akan bekerja di alam kubur? bukankah ketika orang sudah menjadi mayat organ tubuh sudah tidak berfungsi lagi? Kalau begitu jangan jangan pitakon kubur ini adalah prilaku yang harus kita jaga selama hidup didunia ini, maksudnya, enam perkara yang kakek saya sebutkan di atas adalah merupakan pondasi dari setiap prilaku yang harus kita perhitungkan dulu kira kira terlontar jauh tidak dari perkara perkara pitakon kubur ini.

Saya kasih contoh, perkara pertama yang disebukan dalam shalawat pitakon kubur itu adalah malaikat bertanya tentang siapa Tuhanmu, sepertinya halnya kita dalam beragama, level ketahuidan adalah level dimana sebagai pondasi utama sebagai jangkar dari seluruh prilaku kita selama berpetualangan di bumi ini, jangkar ini berfungsi supaya kita tidak akan terbawa arus kehidupan yang sedemikain kompleks dan ngejelimet. Poin pertama adalah ketauhidan, dalam ajaran kita bahwa sebelum berbicara banyak tentang syariat dan cabang cabangnya tauhid harus benar dulu, harus kokoh dan tidak mudah bergoyang saat ada tiupan angin, kuda kudanya harus kuat terlebih dahulu sebelum meningkat untuk mempelajari jurus jurus sebagai kembangannya, bahwa Allah adalah tuhan yang tidak bisa kita persekutukan dengan apapun, baik dalam bentuk materi maupun dalam imajinasi yang terselubung dari dorongan dorongan keinginan untuk memuaskan nafsu keduniawiannya.

Selanjutnya, kitab Alquran yang kemudian juga termasuk dalam poin enam perkara yang nanti dipertanyakan oleh mailikat, saya yakin dan seyakin yakinnya setiap yang beridentitaskan muslim jika saya bertanya apa kitabmu yang di jadikan panutan hidup? Tidak perlu sampai harus mengernyitkan dahi untuk menjawab Al Quran. Hanya saja disini permasalahannya Al Quran yang sudah berbentuk mushaf ini di sudah berubah fungsinya, Al Quran yang sudah berumur ber abad abad ini di jadikan pajangan sebagai simbol keislaman saja, di pajang di ruang tamu dalam bentuk seni kaligrafi untuk menunjukan identitas dirinya sebagai muslim, al quran hanya di buka ketika hanya dalam acara acara ritual khusus seperti, acara pernikahan, pemakaman, dan pembuka acara acara yang bersifat keagamaan, semuanya hanya bersifat protokoler semasata. Selebihnya ia akan menjadi penghuni lemari buku.

Di dalam lagu tombo ati, disebutkan bahwa moco quran lan maknane saya kira semua sependapat jika al quran ini befungsinya bukan untuk di pajang, bukan untuk di diperbanyak dan di cetak beribu ribu eksemplar kemudian dananya di koripsi, tapi untuk di baca, di maknani, di pe’tani untuk mendapatkan petunjuk dari Allah, karena pada dasarnya al quran ini sebagai hudda (petunjuk), bayinah (penjelasan) dan (furqon) pembeda, peta kehidupan, petunjuk jalan untuk menuju tujuan yang sejati, pembeda mana racun mana obat, mana yang ilusi mana yang hakiki.

Beberapa waktu yang lalu saya di tanya oleh teman lama saya yang biasanya mampir kerumah untuk sekedar menimati kopi bersama sama, ia menanyakan tentang apa itu lauh mahfud tidak ada satu kejadianpun yang di jagat raya ini yang tidak tertulis dalam kitab lauh mahfudz ini, bahkan yang bersifat gaib pun kuncinya terdapat di lauh mahfidz? Menurut saya dengan pengetahuan yang sangat terbatas ini, lauh mahfud sudah terplanting dari atas langit dan terdampar dibumi ini, yang kemudian menjadi Al quran sebagai wahyu terakhir Nabi Muhammad yang siapa saja menjadikan al quran sebagai imam atau tuntunannya di jamin tidak akan tersesat. Sesuai dengan wasiat beliau bahwa dua hal yang di wariskan kepada umatnya salah satunya adalah Al quran ini.

Al Quran yang di jadikan salah satu syarat menjadi pengantin anyar di alam kubur nanti seharusnya di seusikan dengan fungsinya, menjadi tuntunan hidup, karena ia merupakan panduan manual yang Allah siapkan kepada umatnya Nabi Muhammad, di khawatirkan sewaktu waktu mengalami jet lag selama menjalankan tugas tugasnya menjadi mandataris Allah di bumi ini. begitu jung dengan poin poin yang lainnya semuanya adalah prilaku atau amalan amalan, bukan pertanyaan pertanyaan yang harus di hapal, tapi  enam perkara yang kakek buyut saya berikan kepada saya merupakan jangkar untuk selalu ngengerati supaya tidak menjauhi dari enam perkara tersebut.

Mala putre wis sire apalene pada bait terakhir ini adalah merupakan kata perintah, apalene atau disuruh menghapal jawaban jawaban yang akan di pertanyakan nanti sebenarnya tujuannya bukan menghapal dalam arti secara harfiah, tapi bermaksud kerjakan apa yang ada di dalam poin poin pitakon kubur tersebut. jangan sesekali menuhankan selain Allah, dimanapun berada, melakaukan apapun Allah tetap di jadikan nomor satu dalam kehidupan, al quran di jadikan prilaku, dijadikan undang undang dasar kehidupan, semuanya sudah tercantum dalam al quran, kalau memang kita mau saja sedikit meluangkan waktu untuk kembali membuka buku panduan manual yang Allah berikan kepada nabi Muhammad sebagai wahyu sebagai huddan linnas jika memang ingin menemukan makna hidup yang sejati.

Begitu juga dengan jawaban kiblat kaule, maksudnya kakek buyut saya ini berusaha mengingatkan untuk tidak sesekali meninggalkan shalat lima waktu minimal, kalau perlu shalat sunah rawatib dan yang lainnya, karena shalat adalah imadduddi<n jika shalatnya saja sudah ditinggalkan bagaimana mungkin sebuah bangunan akan beridiri kokoh jika tiangnya rapuh? Makanya tidak heran jika para orang tua tidak akan pernah bosan untuk mengingatkan bahwa shalat harus di kerjakan dalam keadaan apapun, tidak ada rukhshoh (keringanan) untuk meninggalkan shalat ini, kalau berpuasa ada fidyah jika seseorang tidak mampu untuk berpuasa, tapi untuk yang namanya shalat ini hanya ada dua kemungkinan, mau mendirikan shalat, atau mau di shalatkan.

Wong mukim sedulur kaule, ini sejalan dengan tombo ati wong kang sholeh kumpulane.mungkin maksud dari kakek buyut saya menyuruh untuk bergaul dengan orang orang yang berakhlak baik, karena bagaimanapun pengaruh lingkungan, zaman, teman memilik pengaruh yang luar biasa, karakter seseorang bisa terbentuk bisa dilihat dari dengan siapa ia berteman, jika ia berteman dengan para penjual minyak wangi contohnya, setidaknya ia akan terkena efek bau wanginya, begitu juga sebaliknya, jika ia berteman dengan penjual kambing, setidaknya akan terkena bau perengusnya.

Pitakon kubur, entahlah pertanyaan itu benar benar akan di ajukan kepada saya ketika saya memasuki liang lahat atau memang semuanya itu mengindikasikan lelakon selama hidup di dunia ini. tapi yang jelas saya melihatnya sebagai nasehat yang ingin disampaikan orang tua terdahulu untuk generasi ke generasi selanjutnya dengan di jadikan nyanyian agar mudah disampaikan dan di ingat.

Sukur al hamdulillah pitakon kubur ini sudah kembali terdengar lagi di masjid, menjelang shalat subuh dan shalat magrib ada saja orang yang melantunkannya, anak anak kecil sebegai penerus generasi selanjutnya sudah sering melantunkannya sambil bermain di lapangan masjid, nasehat orang tua terdahulu kembali lagi terdengar di tengah hiruk pikuk industri lagu anak anak yang bersifat komersil dan jauh sekali dari nilai nilai sepritualitas, para orang tua mulai berlahan lahan meninggalkan tempat bertapanya di depan televisi dan berpindah ke masjid untuk berkumpul berjamaah melantunkan shalawat pitakon kubur ini, sebagai bentuk nasehat untuk diri sendiri dengan harapan mbok menawe kesuk mati pade mulye, husnul khatimah, akhir yang baik dan menyiapkan diri untuk menjadi manten anyar.

Seperti halnya peninggalan sunan Bonang dengan syair tombo atinya, kalau di renungkan saja sejenak, tombo ati bukan hanya sekedar syair atau nyanyian, lebih dari itu, nasehat nasehat bijak terselip didalamnya, dan memiliki arti yang sangat dalam, tombo ati jika di translit ke dalam bahasa indonesia adalah obat hati. Begitu juga tembang ilir ilir yang di populerkan oleh sunan kalijaga, didalam syarat dengan nasehat dan motifasi. Mungkin masih banyak lagi warisan orang orang terdahulu yang sudah tertelan oleh perubahan jaman, seakan akan warisan leluhur itu sudah ketinggalan jaman, disebut kuno, kampungan, tidak modern.

orang orang tua memiliki kemampuan untuk mengektrak ilmu dengan hanya beberapa kata saja.  ojo dumeh,  urip mampir mung ngombe, gusti Allah boten sareh dan masih banyak lagi kalimat kalimat yang serupa, namun memiliki makna yang cukup luas dan mendalam, jika di uraikan maknanya, bisa menghabiskan berjilid jilid buku untuk menguraikan beberapa kalimat saja.[]

RELATED ARTICLES

Falsafah Puasa: Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 183

KIBLATKU.COM - Bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat muslim. Pada bulan ini, diyakini, sebagai bulan penuh rahmat dan ampunan. Bulan yang...

Hikmah Isra Mikraj: Menjadi Salih di Saat Pandemi

KIBLATKU.COM - Peringatan Isra Mikraj tahun 1442 Hijrah ini merupakan tahun kedua dunia dilanda pandemi Covid-19. Dua...

Respon Sejumlah Negara Muslim Terhadap Virus Corona

KIBLATKU.COM - Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa hingga Rabu (11/3/2020), virus corona (Covid-19) telah menyebar di 114 negara, menginfeksi lebih...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Aplikasi Bayar Zakat Fitrah Online

KIBLATKU.COM - Mendekati hari Lebaran, umat muslim di Tanah Air mulai menyalurkan zakat fitrah. Lantaran masih pandemi COVID-19 yang mengharuskan kita beraktivitas...

Dukung Kaum Millenial, BSI Luncurkan Griya Simuda

KIBLATKU.COM - PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) meluncurkan pembiayaan perumahan BSI Griya Simuda yang menyasar segmen milenial, dengan target penyaluran pada...

Penyelenggaraan Idul Fitri di Tengah Pandemi, Simak Panduannya!

KIBLATKU.COM - Idul Fitri 1442 H/2021 M masih dalam suasana pandemi. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan panduan penyelenggaraan Salat Idul Fitri...

Seleksi Mandiri UIN Jakarta Dibuka 10 Mei, Simak Jadwalnya

KIBLATKU.COM - Pendaftaran seleksi penerimaan calon mahasiswa baru UIN Jakarta tahun akademik 2020/2021 melalui jalur Seleksi Mandiri (SPMB Mandiri) akan dibuka mulai...

Recent Comments