Monday, October 18, 2021
Home Kajian Fiqih Ibadah Ragu dengan Jual Beli Secara Kredit, Begini Penjelasannya dalam Islam

Ragu dengan Jual Beli Secara Kredit, Begini Penjelasannya dalam Islam

kiblatku.com – Sebagai manusia normal, tentu kita pernah kesulitan uang atau tiba-tiba membutuhkan uang segera dalam jumlah yang banyak. Misalnya untuk kepentingan modal usaha atau kebutuhan mendesak lainnya. Tentu saja tidak mudah untuk mendapatkan pinjaman uang dalam waktu singkat. Akhirnya, cara satu-satunya untuk memperoleh dana atau barang yang kita butuhkan adalah dengan cara kredit. Lantas, bagaiman hukum kredit dalam Islam, apakah ada unsur riba di dalamnya?

Definisi Kredit dalam Islam

Kredit secara bahasa berarti membagi atau menjadikan sesuatu beberapa bagian. Di dalam ilmu fikih, akad jual beli ini lebih familiar dengan istilah jual beli taqsith. Secara bahasa, taqsith itu sendiri berarti membagi atau menjadikan sesuatu beberapa bagian. Secara istilah adalah menjual sesuatu dengan cara tunda, dengan cara memberikan cicilan dalam jumlah-jumlah tertentu dalam beberapa waktu secara tertentu.

Menurut Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan, kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kredit adalah suatu penyediaan pinjaman yang disepakati oleh pihak bank (kreditur) dan peminjam (debitur) dimana pihak peminjam harus melunasi utangnya setelah jangka yang telah ditentukan dengan pemberian bunga. Didalam kredit terdapat unsur-unsur yang mengikat antara kreditur dan debitur untuk mendapatkan suatu kepercayaan.

Dasar Hukum Kredit

Secara umum, jual beli dengan sistem kredit diperbolehkan oleh syariat. Hal ini berdasarkan pada beberapa dalil Firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah : 282)

Ayat di atas adalah dalil bolehnya akad hutang-piutang, sedangkan akad kredit merupakan salah satu bentuk hutang, sehingga keumuman ayat di atas bisa menjadi dasar bolehnya akad kredit.

Selain itu, Fatwa DSN MUI tentang Jual Beli Nomor 110/DSN-MUI/IX/2017 menegaskan, Pembayaran harga dalam jual beli boleh dilakukan secara tunai (al-bai’ al-bat), tangguh (al-bai’ al-mu’ajjal), dan angsur/bertahap (al-bai’ bi al-taqsith). Harga dalam jual beli yang tidak tunai (bai’ al-mu’ajjal atau bai’ al’taqsith) boleh tidak sama dengan harga tunai (al-bai’ al-hal).

Dalam jual beli kredit memang ada kemiripan antara riba dan tambahan harga. Namun adanya penambahan harga tersebut adalah sebagai ganti penundaan pembayaran barang.

Rambu-Rambu Kredit

Meskipun pada dasarnya jual-beli kredit adalah diperbolehkan, akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi praktisi jual beli kredit. Di antaranya adalah:

Pertama, Obyek jual beli bukan komoditi ribawi yang sejenis dengan alat tukar. Hal yang perlu diketahui bahwa akad jual beli antara komoditi ribawi yang masih dalam satu kelompok, misalnya emas, harus dilakukan secara tunai. Artinya tidak boleh ada kredit di dalamnya (harus kontan) agar tidak terjadi praktik riba.

Kedua, Hindari penundaan serah terima barang. Di dalam akad kredit tidak boleh ada penundaan serah terima barang. Sebab hal itu merupakan praktik jual beli hutang dengan hutang. Artinya, barang masih berada dalam tanggungan penjual dan uang pun juga masih berada dalam tanggungan pembeli. Inilah praktik jual beli dain bid dain yang disepakati keharamannya oleh para ulama.

Dari penjelasan singkat tersebut, terlihat betapa Islam sangat memperhatikan kehidupan niaga ini sebagai praktik jual beli yang diperbolehkan. Padahal, sekilas memang antara keduanya, yakni praktik jual beli dan riba ada kemiripan. Letak perbedaan utamanya adalah pada proses akad yang dipergunakan dan praktiknya. Mungkin, di sinilah alasan mengapa Allah SWT memberikan penekanan khusus terhadap jual beli ini di dalam Al-Qur’an, adalah karena sebagian besar kebutuhan manusia itu harus dipenuhi, meski diperoleh dengan jalan kredit.[] Wallahu’alam

RELATED ARTICLES

Kurban Kambing secara Patungan, Bolehkah?

KIBLATKU.COM - Idul Adha identik dengan kurban. Ia sekaligus menjadi ajang berbagi sesama. Pada hari itu, semua muslim di manapun merasakan nikmatnya...

Ketentuan Qurban dan Dasar Hukumnya dalam Islam

KIBLATKU.COM - Idul Fitri dan Idul Adha datang sekali dalam satu tahun. Keduanya adalah hari besar Islam dengan fadhilah yang berbeda. Masing-masing...

Kiat Menghindari Bencana (Musibah) Menurut Alquran dan Hadis

KIBLATKU.COM - Bencana alam bukan sekadar fenomena biasa sebagaimana dipahami orang-orang sekuler. Allah Azza wa Jalla sudah menguraikannya dengan sangat jelas dalam...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Polemik Pencatatan Nikah Siri, Ini Komentar Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta

KIBLATKU.COM - Polemik tentang pernikahan siri dapat ditulis di Kartu Keluarga (KK) menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Ini dipicu dari keberadaan Peraturan...

Yuk Daftar! Ada Sunatan Gratis untuk Warga Cisauk Kab Tangerang

KIBLATKU.COM - DKM Musala Nurul Amal bersama Mitra Khitan Modern dan Yayasan Lentera al-Qur'an Elhasani akan menggelar acara Maulid Nabi SAW 1443...

Demi Keadilan Nasional, DPR Usulkan RUU Ekonomi Syariah

KIBLATKU.COM - Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekonomi Syariah telah diusulkan menjadi Prolegnas (Program Legislasi Nasional) Prioritas Tahun 2022 oleh Fraksi PKS dan juga Komisi XI DPR RI....

PTKI Harus Responsif, Beri Solusi Masalah Bangsa

KIBLATKU.COM - Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi menggarisbawahi pentingnya peran Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dalam merespon persoalan sosial keagamaan. Untuk...

Recent Comments