Thursday, October 28, 2021
Home News Yuk Intip! Trik Menulis Berita Ala Pemred Berita UIN Jakarta

Yuk Intip! Trik Menulis Berita Ala Pemred Berita UIN Jakarta

KIBLATKU.COM – Menulis berita bukanlah perkara gampang, banyak tahapan yang harus dilalui dan dikuasai untuk menjadi wartawan. Tiga diantaranya adalah penguasaan masalah, keterampilan menulis dan bahasa jurnalistik. Demikian pernyataan Nanang Syaikhu dalam acara Kelas Menulis yang diadakan Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta secara daring, Kamis (18/3).

“Berita sifatnya objektif tidak boleh ada unsur subjektivitas. Harus murni melaporkan tentang fakta atau peristiwa yang terjadi. Berbeda dengan penulisan opini, yang di dalamnya ada unsur subjektivitas atau pendapat penulis. Nah kalau ingin menjadi seorang wartawan, tiga hal ini harus dikuasai, yakni penguasaan masalah, keterampilan menulis dan bahasa jurnalistik,” ungka Nanang yang juga tercatat sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred) Berita UIN Jakarta.

Masih menurut Nanang, penguasaan masalah menjadi hal yang penting untuk dipahami sebagai pijakan dalam menulis berita. Jangan sampai tidak paham terhadap apa yang akan ditulis. “Penguasaan masalah penting dikuasai. Jangan sampai tidak paham apa yang mau ditulis. Masalah ekonomi kah, hukum atau politik. Pengetahuan semacam ini harus dikuasai,” katanya.

Poin yang kedua, lanjut Nanang, Keterampilan menulis. Pada poin ini seorang jurnalis atau wartawan harus menguasai teknik penulisan yang sudah baku, yakni kaidah 5W 1H. What, Who, When, Why, Where, dan How (Apa, Siapa, Kapan, Mengapa, Di mana, dan Bagaimana). Ini adalah ciri berita yang bersifat faktual. “Keterampilan ini harus diselamatkan dengan kaidah kepenulisan berita, yakni 5W 1H. Kalau tidak terampil menggunakan kaidah ini, nanti terjebak pada penulisan opini,” paparnya.

Dan yang terakhir adalah penguasaan kaidah bahasa jurnalistik yang salah satu cirinya adalah bersifat demokratis. Artinya semua nara sumber disamaratakan tanpa embel-embel gelar, misalnya penyebutan bapak, ibu, beliau dan sebagainya. “Bisa menulis tapi lemah dalam penguasaan bahasa jurnalistik itu jadi tidak lengkap. Narsum bagii seorang jurnalis tidak dibedakan, sama,” tegasnya.[]

RELATED ARTICLES

UIN Jakarta Raih Predikat Perguruan Tinggi Menuju Informatif

KIBLATKU.COM - Komisi Informasi Pusat (KIP) menggelar Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2021....

BPJPH Dorong Terbentuknya Lebih Banyak Lembaga Pemeriksa Halal

KIBLATKU.COM - Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag Muhammad Aqil...

Kapolri dan Para Tokoh Nasional Apresiasi  HUT Gerakan Indonesia Optimis ke-3

Jakarta - Sejumlah tokoh nasional, petinggi TNI, Polri, ulama, artis, dan ketua OKP memberikan testimoni pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Gerakan...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

UIN Jakarta Raih Predikat Perguruan Tinggi Menuju Informatif

KIBLATKU.COM - Komisi Informasi Pusat (KIP) menggelar Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2021....

BPJPH Dorong Terbentuknya Lebih Banyak Lembaga Pemeriksa Halal

KIBLATKU.COM - Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag Muhammad Aqil...

Kapolri dan Para Tokoh Nasional Apresiasi  HUT Gerakan Indonesia Optimis ke-3

Jakarta - Sejumlah tokoh nasional, petinggi TNI, Polri, ulama, artis, dan ketua OKP memberikan testimoni pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Gerakan...

Polemik Pencatatan Nikah Siri, Ini Komentar Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta

KIBLATKU.COM - Polemik tentang pernikahan siri dapat ditulis di Kartu Keluarga (KK) menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Ini dipicu dari keberadaan Peraturan...

Recent Comments